Rabu, 03 Juli 2013

Persamaan PKI dan PKS



PERSAMAAN PKI DAN PKS





Menyingkat kata, saya akan uraikan persamaan antara Partai Komunis Indonesia (PKI) dengan Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

    A.   INTERNASIONALIS
·          Baik PKI maupun PKS berorientasi Internasionalis. Dahulu, PKI dianggap kepanjangan tangan Partai Komunis Uni Sovyet dan China. Meskipun Partai Komunis di dua negara itu berbeda dengan PKI. Demikian halnya dengan PKS merupakan perpanjangan tangan Ikhwanul Muslimin (IM) dari Mesir. Meskipun varian Ikhwanul Muslimin di berbagai negara tidaklah selalu sama. PKS mengambil IM varian Sa’id Hawwa faksi Qiyadah Syaikh.
·        Cita-cita gerakan komunis, tercipta keadilan distributif ala sosialisme di seluruh negri. Sedangkan gerakan Ikhwanul Muslimin fi Mizanil Islam . Dengan turunan membebaskan negeri dari kekuatan asing. Menegakan masyarakat demokrasi nasional berbasis sosialisme di Indonesia. Sedangkan IM, menegakan negara Islam yang merdeka dan memberlakukan hukum-hukum Islam (Risalah Ta’alim)
·        PKI tidak secara terang-terangan mengacu kepada gerakan Komunisme di Uni Sovyet maupun China. Demikian halnya dengan PKS. Dalam Piagam Pendirian dan AD/ART tidak ada disebutkan PKS perpanjangan tangan IM dari Mesir. Meskipun demikian, baik PKS maupun PKI memiliki orientasi gerakan yang sama: universal internasionalis.
·        Bisa kita bandingkan dengan Partai Politik yang ada sekarang di Indonesia di luar PKS. Apakah ada yang memiliki orientasi Internasionalis, selain PKS. Di luar partai, ada ormas seperti Hizbul Tahir, yang juga berorientasi Internasionalis.
·        Jaringan Internasionalis antar komune (PKI) dan ikhwan (PKS) menjadikan ikatan solidaritas dan persaudaraan lintas negara menjadi kuat. Seperti PKI yang membantu mengembangkan gerakan komunis di Vietnam, dan merespon ketegangan blok soviet dan Amerika. Demikian halnya dengan PKS, yang sangat cepat merespon HI Palestina bernama HAMMAS dalam perjuangan melawan Israel. Makanya tak mengherankan jika PKS lebih peduli dengan isyu Palestina, ketimbangan isyu Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Arab yang menderita. Karena lebih terikat pada Internasionalis daripada ikatan Nasionalis. Padahal TKI yang menjadi korban, mayoritas juga Muslim yang teraniyaya.
·        Untuk menunjang ikatan solidaritas persaudaraan, PKI membangun Poros Jakarta Peking. Sedangkan PKS, membangun poros Indonesia Turki. Selain membangun komunikasi juga membuat program pendidikan para kader. Persis dengan PKI yang mengirim kadernya untuk belajar di Universitas di China, Moskow, Prancis dan negara Eropa lainnya. PKS pun mendapat jalan untuk mengirimkan kadernya untuk belajar di pelbagai Universitas di Timur Tengah dimana IM ada disana. Saat ini IM cukup berkembang di Syiria, Yordania, Iraq, Libanon, Turki, Arab Saudi, Yaman dan Sudan. Saat pendirian awal PK pada tahun 1998, IM dari negara di Timur Tengah banyak membantu pendanaan..

B.   MUSUH BERSAMA
·        Perbedaan ideologi memacu ketegangan antar blok dunia. Meskipun Indonesia secara nyata berada pada posisi Non Blok, akan tetapi karena pengaruh PKI, Sukarno sering menyerang kebijakan Amerika dan Inggris. Kebencian terhadap Amerika dan Inggris, sama dengan partai komunis di negara manapun. Demikian juga dengan PKS, yang memandang Amerika dan Israel sebagai musuh bersama. Dimanapun IM berada dan di negara manapun.
·        Untuk identifikasi musuh, maka diciptakan jargon bersama. PKI menyebut Amerika dan sekutunya sebagai bahaya Imperialisme. Sedangkan PKS dan IM menyebutnya sebagai bahaya zionis. Jargon ini seragam dinegara manapun. Secara tidak langsung menunjuk pada sasaran yang sama: Amerika dan Israel.
·        Sementara untuk musuh di dalam negri, mereka biasa menyebut dengan istilah “antek atau agen”. PKI menyebut antek atau agen Imperialis, sedang PKS menyebunya antek atau agen Zionis. Siapapun orang atau organisasi yang mereka anggap musuh, maka akan keluar stigma ini.
·        Baik PKI dan PKS tidak menyukai hal yang berbau “barat”. Bagi mereka barat identik dengan Liberal. PKI sering menuding para pejabat negara dengan gaya hidup mewah dan PSI, dicap sebagai prilaku Liberal. Demikian juga dengan PKS yang sering menuding orang dengan cap serupa: Liberal. Diantaranya menuding Liberal kepada media massa. Padahal senyatanya prinsip liberal (kebebasan) pers hanya tumbuh di negara-negara demokratis. Hanya negara yang otoriter yang membatasi ruang kebebasan pers. Seperti di Uni Soviet atau di zaman Orde Baru di bawah pemerintahan Soeharto.
·        Ketika Uni Soviet berhadapan dengan sekutu yg dipimpin oleh Amerika dalam perebutan Jerman tahun 1945, maka saat itu, kebencian terhadap Amerika dan sekutunya lahir. Kebencian Uni Soviet terhadap Amerika ditularkan gerakan komunis di Indonesia. Demikian juga dengan gerakan Ikhwanul Muslimin di Mesir yang secara langsung terlibat perang di Palestina melawan Israel. Kebencian terhadap Israel zionis Amerika, ditularkan juga ke Indonesia.
·        Padahal sejarahnya musuh Indonesia adalah Belanda, Jepang dan NICA Inggris. Belum pernah bangsa Indonesia melakukan konfrontasi langsung dengan Amerika. Namun bibit permusuhan dengan Amerika dibawa oleh komunis Soviet, maka PKI pun mengangap sebagai musuh bersama. Demikian juga Israel belum pernah terlibat konfrontasi langsung dengan Indonesia. Namun bibit permusuhan dari IM Mesir, masuk juga ke Indonesia lewat PKS.
·        Sebaliknya, PKI tidak pernah menjadikan zionis atau Israel sebagai isyu permusuhan. Demikian juga dengan PKS, tidak pernah menjadikan komunis Soviet (Rusia) dan China, sebagai isyu permusuhan. Padahal jika dilihat ajaran komunisme dianggap ateis atau tidak mengakui adanya Tuhan.
·        Baik PKI dan PKS sangat kaya perbendaharaan untuk memberi stempel bagi musuh-musuhnya. Dahulu ada cap seperti kaum sarungan, tuan tanah, feodal, kapitalis birokrat (kabir), sekterian, revisionis, anti rakyat. Sekarang muncul cap kafir, dajjal, tukang fitnah,thogut, musyrik dll. Pendek kata, baik PKI dan PKS sangat mudah memberi cap stempel kepada musuh-musuhnya.

C.   METODE GERAKAN
·        Aksi massa, mobilisasi dan demostrasi digunakan sebagai metode gerakan baik oleh PKI maupun PKS. Hal ini untuk menguji para kader pada satu isyu dan terdisiplinkan. PKI sering menggunakan Gelora Istora Senayan untuk mengumpulkan para kader. Mendengar pidato Aidit. Dan para petani, buruh sering melakukan demo ke kedutaan dan gedung pemerintahan. Demikian juga dengan PKS. Berbeda dengan mobilisasi massa atau demostrasi yang dilakukan oleh kelompok lain. Baik PKS maupun PKI, demonstrasi nampak lebih tertib dan disiplin.
·        Aksi Massa terorganisir dan sepihak juga digunakan. Biasa dikenal istilah “pendudukan”. Para kader PKI sering melakukan aksi sepihak dengan menduduki tanah-tanah di pedesaan. Sedangkan PKS wilayah pendudukannya adalah Mesjid dan lembaga intra kampus. Karena basis PKI dan PKS berbeda. Tetapi sama dalam pengertian aksi sepihak atau pendudukan atau okupasi.
·        Mendirikan Partai politik dan Ikut Pemilu. Gerakan komunis di Indonesia di mulai dengan perpecahan di tubuh SI pada tahun 1918. Setelah itu SI Merah masuk ke basis buruh. Peristiwa pemberontakan pertama dikenal dengan pemogokan buruh pada tahun 1926. Sifat pemberontakan PKI, kembali terjadi pada perististiwa madiun 1948. Tetapi kemudian, PKI mengubah siasat dengan ikut Pemilu pada tahun 1955. Demikian juga dengan PKS, yang awalnya adalah kelompok tarbiyah di mesjid dan kampus. Sistem gerilya dilakukan. Meskipun ada cikal bakal pemberontakan, seperti keterlibatan Hilmi Aminuddin dalam gerakan NII. Atau keterlibatan Danu Mohammad (ayah Hilmi Aminuddin) dalam pemeberontakan DI/TII. Tetapi untuk sementara metode frontal ini diredam dahulu. Dan memilih metode pendirian partai secara formal dan ikut Pemilu. Pada tahun 1998, kelompok ini membentuk PK dan ikut Pemilu.
·        Perubahan metode gerakan atau taktik gerakan, sudah lazim dilakukan di berbagai negara. Di Indonesia contohnya, gerakan perlawanan bersenjata GAM berubah menjadi partai politik dan ikut pemilu. Juga seperti gerakan Ikhwanul Muslimin di Mesir, yang kemudian mengubah taktik untuk menjadi partai politik dan ikut Pemilu. Perubahan metode ini sekarang marak dilakukan gerakan di Amerika Latin. Slogannya, “dari peluru menuju pemilu”
·        Metode pendirian partai politik dan ikut Pemilu sesungguhnya baru baik bagi PKI maupun PKS. Karena metode gerakan murni tidaklah demikian. Seperti gerakan komunis China dan Uni Soviet, lebih memilih jalan revolusi. Gerakan komunis memang dikomando oleh Partai Komunis, tetapi tidak menempuh jalan pemilu tetapi revolusi. Begitupun dengan Ikhwanul Muslimin di Mesir, didirikan tahun 1928, memilih jalan gerakan perlawanan bahkan membentuk divisi militer untuk berperang melawan Israel di Palestina.
·        Kemampuan menggalang dan konsolidasi PKI dan PKS tidak diragukan lagi. Bayangkan, setelah dihajar oleh TNI pada pemberontakan Madiun 1948, PKI dapat bangkit kembali. Dalam waktu 7 tahun, PKI dapat masuk 5 besar partai yang menang Pemilu 1955. Begitu juga dengan PKS. Dalam waktu yang relatif singkat PKS dapat masuk 5 besar pada pemilu 2009. Bahkan perolehan suara antara tahun 1999 ke 2004, melonjak hingga 600%.
·        Baik PKI maupun PKS, menganggap partai adalah komunitas. Bukan semata kendaraan politik. Partai harus mampu memberi jawaban atas masalah anggota, simpatisan dan kader. Baik masalah ekonomi maupun sosial. Kantor partai PKI dan PKS adalah markas yang hidup dan dinamik. Semua hal diurus. Dari urusan anggota yang melahirkan hingga meninggal dunia.

D.   POLITIK, KEKUASAAN
Dalam menjalankan politik, PKI dan PKS menempuh jalan akomodatif semu atau konfrontasi terbelah. Maksudnya, para elit PKI dapat bekerjasama dengan Presiden Sukarno untuk melawan musuh Amerika, tetapi dilain sisi para anggota PKI melakukan aksi-aksi sepihak merongrong pemerintahan Sukarno. Satu sisi mendukung, satu sisi menentang. Seperti yang dilakukan PKS saat ini pun serupa. Tidak jelas kelamin opoisisi atau berada dalam koalisi. Baik PKI dan PKS berprinsip, berpihak yang memiliki peluang menang besar. Dalam khazanah politik dikenal dengan taktik, “polisi baik dan polisi jahat”. Partai membagi peran, siapa yang menjalankan sebagai “polisi baik” dan siapa yang berperan sebagai “polisi jahat”. Itulah yang saya sebut dengan konfrontasi terbelah.
 Baik PKI maupun PKS merangkul dan masuk ke semua lini. Meskipun basis utama PKI adalah buruh tani, tetapi untuk menjalankan politik kekuasaan, mereka masuk juga ke kelompok elit politik dan TNI. Sehingga dulu, kita mendengar banyak perwira TNI yang merupakan binaan PKI. Begitu juga dengan PKS, mereka masuk ke TNI lewat Wiranto, masuk ke Cendana lewat Titiek Suharto, dan mulai mengambil hati kelompok NU dan Muhammadiyah. Padahal secara ajaran, kelompok yang didekati ini bertentangan secara “ideologis”. Alasan PKI dahulu, masih banyak anasir borjuasi kecil yang revolusioner.

E.   PARTAI KADER
Baik PKI mapun PKS memilih bentuk sebagai Partai Kader. Meskipun pada tahun 1960an, PKI mengkombinasikan antara Partai Kader dan Partai Massa. Demikian juga dengan PKS, setelah tahun 2010, mendeklarasikan diri sebagai partai terbuka. Meskipun demikian, motor pengerak tetap bertumpu pada kader. Alasannya serupa, partai kader yang bersifat eksklusif sulit untuk merangkul semua kelompok untuk memenangkan Pemilu.
Pembinaan kader yang dilakukan PKI dan PKS mengunakan sistem sel. Membentuk kelompok kecil beranggota tidak lebih dari 7-10 orang dan dibina oleh seorang mentor. Istilah “dibina” dahulu dipergunakan juga oleh PKI. Sehingga jelas hubungan antara Mentor (guru/ murrobi) dan kader (murid). Setiap seminggu sekali, para mentor akan bertemu untuk melaporkan perkembangan binaan masing-masing dalam rapat bersama antar mentor. Usroh, sistem sel ini bersifat eksklusif. Jelas perjenjangan kadernya. Hubungan guru dan murid digunakannya oleh kalangan NU, dengan hubungan Kiai dan Santri. Tetapi hubungan ini tidak dilakukan dalam sistem sel.
Dalam pola yang seperti ini, sulit bagi murid untuk melawan guru. Karena pembinaan dilakukan bertahun-tahun lamanya. Guru atau Murrobi sebenarnya juga murid dari guru di atasnya. Bila ada yang menyerang guru atau kiai, maka para murid akan serentak membelanya.
Para mentor atau guru akan menunjukan buku buku wajib yang harus dibaca oleh para kader. Mengikuti pengajian / Liqo atau diskusi lapangan (istilah PKI) secara rutin. Pada saat yang bersamaan, akan keluar beberapa doktrin dasar. Seperti menjauhi kehidupan duniawi (PKS) atau kehidupan kaum borjuis (PKI).
Baik PKI dan PKS mengenal “sumpah” atau “baiat” bagi anggotanya. Hal ini untuk mengikat dengan kesatuan komune atau jama’ah. Hampir semua kader dipahamkan jika mereka berbeda pendapat dengan qiyadah (pemimpin) dan mengkritiknya, hal itu bisa mencederai makna bai’at dan jamaah
Para kader dituntut untuk “melek buku”. Belajar terus menerus. Selain itu mereka diarahkan untuk mengikuti kursus-kursus ideologi maupun kursus ketrampilan. Sekolah-sekolah formal dibangun sejak TK/SD. Bahkan PKI memiliki perguruan tinggi, namanya Akademi Ali Archam. Sekolah-sekolah PKI tidak terlampu jauh dengan pabrik atau wilayah perkebunan. Sedangkan PKS, sekolah berdekatan dengan Masjid.
Literatur wajib yang dibaca oleh kader sudah dipandu. Seperti buku sejarah dan karya Hasan Al Banna, Sayyid Qutb, Abul A’la Al-Maududi dan Yusuf Qaradhawi. Begitupun dengan PKI, yang mewajibkan kader memahami pemikiran Karl Marx, Feurbach, Hegel, Lenin, dan Mao Tse Tung. Kisah perjuangan Hasan Al Banna tidak kalah heroik dengan kisah perjuangan Mao Tse Tung. Dan dapat membangkitkan semangat para kader. Bacaan wajib lebih bersifat agitatif dan menjadi doktrin. Seperti Matrialisme, Dialektika Historis (MDH), Manifesto Komunis atau Garis Masa (PKI). Sedangkan PKS, akan diperkenalkan dengan bacaan Tarbiyah Politik, Pajak Kehinaan atau Catatan Harian Dakwah. Mempertegas varian gerakan PKI mengajarkan doktrin Marxisme Lenisme, sedang PKS diperkenalkan IM varian Quthbiyah.
Baik PKI dan PKS, tidak percaya pada media massa. Mereka menganggap media massa tidak lebih dari propaganda agen barat atau kaum kapitalis. Untuk menyeimbangkan itu, PKI dan PKS membuat media propaganda tersendiri. Dahulu oplah koran seperti “bintang merah” yang dikeluarkan PKI mengalahkan oplah koran umum. Karena para kader wajib membacanya. Informasi yang benar hanya bersumber pada Partai. Di luar itu hanya berisi fitnah atau propaganda hitam.
Tidak ada hari bagi kader PKI dan PKS untuk melakukan dakwah (PKS) atau Propaganda (PKI). Tugas ini, tugas semua kader di semua tingkatan. Istilah PKI, semua kader adalah agen AgitProp (Agitasi propaganda). Salah satu tujuan dakwah dan propaganda adalah pengorganisasian calon-calon kader baru. Berbeda dengan partai politik lain, yang baru melakukan kampanye saat menjelang Pemilu. PKI dan PKS, tugas dakwah atau propaganda dilakukan setiap hari, setiap saat.
Baik PKI maupun PKS, mengandalkan iuran dan infaq anggota. Kantor pusat PKI di jalan Kramat Raya Jakarta, sebagian besar dananya diperoleh dari sumbangan anggotanya. Semua pendapatan dari anggota dibukukan secara rapi.
Ciri yang dapat dilihat juga antara PKI dan PKS, dalam penyebutan istilah. Misalnya, kata “kawan” disadur dari kosa kata “Camerade” yang biasa dipakai kaum komunis di Soviet. PKS mengunakan kata ikhwan dan ukhti; ana dan antum. Atau istilah “revolusi” menjadi “jihad”; istilah “martir” menjadi “mujahid”. Istilah “setan desa” menjadi “thaghut’.
Kedua partai ini, juga mengatur kehidupan anggota dan kadernya hingga pada tingkat rumah tangga. Dahulu ada istilah, nikah ala partai, maka kini PKS mengambil jodoh di lingkungan anggota sendiri. PKI lebih rigit mengatur kehidupan. Sampai ada pembatasan harta di semua anggota dan kadernya. Mereka dituntut hidup sederhana. Para pejabatnya hanya diizinkan untuk memiliki satu radio transistor saat itu. Kehidupan “sama rasa sama rata” itu kemudian diterapkan juga di PKS. Tuntutan hidup sederhana, saling berbagi dan tolong menolong sesama anggota dan kader.
Doktrin kehidupan diantaranya: “10 pedoman Hidup” ajaran Hasan Al Banna (PKS). Sedangkan PKI menggunakan doktrin “Tiga boleh, Lima Jangan”. Lima Jangan model PKI mengambil dari norma Jawa: mo-limo.
Baik PKI dan PKS sangat ketat mengajarkan doktrin kepada kadernya. Sikap dan kepatuhan para kader dipandu juga dengan “Tuntutan Kader Revolusioner” (PKI) atau “Enam Rukun Leadership” (PKS). Secara umum berisi sikap ta’at, percaya kepada pimpinan (tsiqoh), putusan garis massa atau syuro qiyadah, ijtihad, dan fiqhuddakwah.
Secara struktur organisasi, PKI dan PKS tidak bergantung kepada ketua umum atau Presiden. Dahulu PKI mengunakan struktur Comite Central dan Polit Biro; saat ini PKS menggunakan Majelis Syuro dan Dewan Syariah. Sidang Comite Central lah yang menjadi lembaga tertinggi di Partai. Demikian juga dengan PKS, yang menempatkan Majelis Syuro di posisi tertinggi.

F.   POTENSI KEKERASAN
 Baik PKI maupun PKS, memiliki bibit pemberontakan dari sumber aslinya. Jika dahulu, PKI tengah mempersiapkan “angkatan kelima” dengan mempersenjatai kaum tani. Sama persis yang dilakukan dengan Partai Komunisme China. Sedangkan bibit PKS yakni Ikhawanul Muslimin Mesir memilik brigade tempur yang dinamakan Fidayanul Muslimin.
 Potensi kekerasan tertanam dalam ajaran yang digunakan PKI dan PKS. Untuk melawan musuh-musuhnya, maka jalan kekerasan dapat ditempuh. Membunuh orang kafir, menjarah kekayaan mereka sesuatu yang halal. Sedangkan PKI melakukan gerakan pemberontakan dan aksi sepihak sudah dilakukannya.


Persamaan pola gerakan Ikhwanul Muslimin sayap Quthbiyah dengan gerakan Marxisme – Leninisme (ML) pernah ditulis oleh John Gray dalam buku, “How Marx turned Muslim”. Gray mengkaji darimana datangnya pemikiran radikalisme gerakan yang ada dalam tubuh IM sayap Quthubiyah. Padahal Sayyid Quttub lebih digambarkan sebagai seorang sufi tradisional. Rupanya pemikiran Sayyid Quttub dipengaruhi oleh maraknya gerakan radikalisme termasuk ML di Eropa pada tahun 1920an. Sehingga wajah sufi tidaklah tergambar sebagimana ulama salaf maupun khalaf. Ditambah represif kolonial Inggris, pemerintahan yang otoriter dan gejolak perlawanan di Palestina, hingga melahirkan model gerakan dakwah yang cukup radikal.
Partai politik dengan basis ideologi sosialisme di Indonesia bukan hanya PKI. Banyak. Termasuk PNI yang dianggap Partai Nasionalis juga mengintrodusir paham sosialisme ala Indonesia. Di luar itu ada Partai Sosialisme Indonesia (PSI) dan Partai Murba. Tetapi, model gerakan yang radikal dan mengunakan pola partai kader hanya PKI. Demikian juga Partai Politik dengan basis Islam, bukan hanya PKS. Banyak. Tetapi, model gerakan yang radikal dan mengunakan pola partai kader hanya PKS. Pada titik ini terjadi kemiripan pola gerakan antara PKI dan PKS.

PKI menjadikan azas komunisme dengan corak ateis sebagai ideologi utama, dan PKS menjadikan azas dakwah islam dengan corak penghambaan kepada Alloh swt sebagai ideologi utama kemudian mereka menjadikan kelompok2 yang memiliki visi yang sama untuk berporos pada ideologi mereka.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar